Review Game Valorant, Game Favorit Para Cowok

Inisiatif untuk menciptakan banyak game dari berbagai genre yang diusung oleh Riot Games layak diacungi apresiasi.

Setelah sukses merilis game kartu Legends of Runeterra yang berhasil menerjemahkan karakter Champions dari League of Legends, akhirnya sang pengembang pun resmi melepas Valorant untuk dirilis global awal bulan ini.

Game yang terasa menggabungkan gameplay dari Counter Strike: Global Offensive (CS:GO) dan Overwatch ini pun membawa gaya permainan yang cukup otentik.

Digadang-gadang sebagai game shooter taktis, Valorant justru bisa menyediakan ruang variasi karakter sehingga permainannya juga menyediakan ruang aksi serta membuka strategi yang lebih pelik.

Salah satu hal yang patut diapresiasi dari Valorant adalah teknologi ringan yang mereka usung. Dengan begini, pemain hanya perlu mengunduh data untuk bermain sekitar 8GB dan setelahnya, game ini bisa langsung dimainkan dengan mudah.

Meski enteng, grafik yang disajikan juga masih tetap berkesan lantaran dieksekusi dengan cukup rapi. Terlebih, artwork dari game ini juga dipromosikan dengan gaya yang sangat edgy.

Teknologi yang enggak muluk-muluk ini memang terasa ingin menyaingi pasar CS:GO yang didominasi oleh PC Gamer menengah ke bawah, Valorant.

Sangking entengnya, Valorant bisa dimainkan di laptop dengan konfigurasi pas-pasan dan bisa dijalankan dengan VGA on-board yang notabene sangat sulit dipakai untuk menjalankan game kekinian.

Meski konfigurasi grafis di game ini sangat ringan, permainan yang disajikan tetap sangat memanjakan mata.

Terlebih, efek suara serta voice line dari masing-masing karakter mewarnai setiap menit dari permainan yang kita rasakan. Game ini jadi bukti jika teknologi tinggi dan grafis maksimal enggak selalu jadi syarat untuk game bagus.

Berbeda dengan CS:GO yang mengusung utillity seperti geranat, flashbang, molotov, dan smoke grenade, Valorant membawa elemen ini kepada kemampuan karakter di dalamnya.

Enggak ada karakter yang bakal berperan sebagai tank dengan darah lebih tebal atau karakter yang bisa melakukan damage terlalu tinggi sebagai DPS.

Dari empat role, yakni Controller, Duelist, Initiator, dan Sentinel, semuanya punya beberapa kemampuan yang berguna untuk menyerang musuh maupun melakukan zoning dengan menutup penglihatan.

Alhasil, permainan di dalamnya cenderung lebih taktis ketimbang menonjolkan aksi seperti dalam Overwatch.

Sebagai contoh, karakter Jett memang punya Ultimate yang bisa membunuh musuh dengan kunai yang dia lemparkan.

Meski begitu, di setiap ronde, kemampuan Cloudburst miliknya yang bisa menutup penglihatan musuh lebih berguna untuk melakukan rush atau menjaga poin tertentu. Pasalnya, layout dari map di Valorant memang lebih mengutamakan bentuk game tactical shooter.

Dari pengalaman yang KINCIR pakai dari semua karakternya, Valorant berhasil menyediakan variasi yang menarik. Empat role yang mereka usung berhasil membuat definisi tactical shooter layak diperhitungkan kembali.

Para Duelist dan Initiator, misalnya ditakdirkan sebagai Entry untuk melakukan rush sementara Sentinel dan Controller bisa melakukan zoning dan memberikan support kepada anggota tim lainnya.

Salah satu yang harus diperhatikan veteran pemain CS:GO ataupun Overwatch kala menyentuh game ini adalah fase ronde di setiap game.

Seperti Overwatch, nantinya pemain bisa maju lebih dulu untuk mencapai barrier di setiap jalur, berbeda dengan CS:GO yang mengunci posisi pemain kala buying time di setiap permulaan game.

Penyesuaian ini akhirnya membuat sebaran pemain di map lebih terkonsentrasi. Para Defender tentu akan menjaga setiap titik sementara Attacker akan mempertimbangkan poin dan jalur yang layak untuk diserang.

Di sisi lain, sistem ekonomi di dalam game ini bisa dibilang lebih sederhana ketimbang CS:GO. Jika kita bisa membeli dua AWP dengan cash maksimal di angka 16 ribu, kini 9 ribu credits di Valorant rasanya hanya bisa digunakan untuk membeli satu Operator.

Dua jenis Shield yang bisa pemain beli pun memberi ruang pertimbangan untuk melakukan buying yang lebih efisien di setiap rondenya. Game ini pun memberikan credits yang lebih flat di setiap ronde ketimbang CS:GO.

Sayangnya, meski mengusung tema dan konsep yang bisa dibilang sangat berhasil, Valorant menyediakan konten yang sedikit pada perilisannya.

Mode Bomb Mission (atau yang di dalam game disebut Spike) hanya jadi satu-satunya yang dibawa oleh Valorant pada perilisannya. Malah, hanya tersedia empat map yakni Ascent, Bind, Haven, dan Split yang mereka kembangkan.

Meski otentik dan membawa layout yang bisa dibilang sangat berani, empat map ini pada akhirnya membawa Valorant jadi cukup cepat membosankan. Terlebih meski menginisasi senjata yang berbeda, visual scope yang dihadirkan di Rifle dan SMG miliknya masih sama.